Kalau sekarang ingus hijau masih sering diartikan sebagai infeksi bakteri, maka penelitian yang dimuat dalam British Medical Journal edisi 22 Juli ini mungkin harus kita perhatikan baik-baik.
Penelitian tersebut mendukung pendapat bahwa dokter seharusnya tidak meresepkan antibiotika untuk pasien dengan hidung “berair” dengan ingus yang berwarna. Maksudnya disini adalah kasus-kasus yang dikenal dengan istilah rhinitis mukopurulen, artinya inflamasi hidung dengan sekret yang berwarna.
Terkadang, dokter enggan memberikan antibiotika untuk kasus yang diyakini tidak memerlukan obat tersebut. Tapi, orang tua seringkali malah memaksa dengan berbagai alasan, misalnya dengan mengatakan bahwa tanpa antibiotika anaknya tidak akan sembuh. Sebetulnya, “Center for Disease Control” sudah memberikan petunjuk kepada dokter dengan kalimat berikut. When parents request antibiotics for rhinitis or the “common cold”… Give them an explanation, not a prescription.
Dalam penelitian tersebut didapatkan bahwa pasien akan membaik walau tidak diberikan antibiotika. CDC juga pernah menjelaskan bahwa untuk pilek yang tidak mengalami komplikasi, batuk dan hidung berair memang bisa berlangsung lebih dari 2 minggu, bahkan lama setelah gejala lain reda.
Tentu saja kita harus tetap memeriksakan diri pada dokter. Dokter akan mendiagnosa dan menentukan langkah pengobatan yang harus dilakukan. Paling tidak, mari kita tidak memaksa dokter untuk memberikan antibiotika yang sesungguhnya mungkin tidak ingin diberikan oleh dokter tersebut. Dan dokter pun harus melakukan apa yang diyakininya sebagai tindakan yang tepat tanpa terpengaruh paksaan orang lain.
Blogged with Flock